KOmpas/Totok Wijayanto / Kompas Images
Minggu, 2 Maret 2008 | 01:20 WIB
SURYADI
Provinsi ”pembangkang”
Historiografi Indonesia
Warisan Makassar-Bugis
Pakacaping merupakan salah satu musik tradisional di masyarakat Sulawesi Selatan. Dari sisi estimologis pakacaping merupakan gabungan dari pa (pemain) dan kacaping (kecapi), yang berarti pemain kecapi. Bentuk musik vokal instrumental ini dimainkan oleh satu orang atau lebih secara berpasangan. Dalam pertunjukannya, pemain kecapi memainkan instrumen melodis yang disebut kecapi sambil melantunkan syair lagu yang disebut kelong dengan cara sibali-bali (berbalas-balasan).
Awalnya pakacaping merupakan permainan untuk menghibur diri sendiri di waktu senggang. Pemain kecapi menikmati kobbi’-kobbi’na (petikan-petikannya sendiri) tanpa ada kebutuhan pendengar. Dalam perkembangannya, pakacaping menjadi seni pertunjukan dalam berbagi konteks adat istiadat assua’-sara’ (keramaian), seperti dalam konteks a’mata-mata benteng (menjaga tiang rumah semalam suntuk), pesta perkawinan, sunatan, dan kegiatan lain yang berhubungan dengan pesta adat kehidupan dan budaya etnis Makassar di Gowa.
Diilhami oleh bunyi getaran tali layar perahu yang diterpa angin, pelaut Makassar-Bugis membuat instrumen musik kacaping. Bentuk dan nama instrumen kacaping merupakan perubahan bentuk dan nama dari kancillo atau kanjilo yang berbentuk perahu. Kanjilo terbuat dari batok tempurung kelapa sebagai ruang resonansi yang diberi tali atau senar.
Melalui pendekatan Etnomusikologi, penulis membahas pakacaping dari perspektif teks dan konteks untuk melihat eksistensi dan perkembangan musik tradisional itu pada etnis Makassar di Gowa, Sulawesi Selatan. (DRA/Litbang Kompas)
Keseimbangan Hidup Menurut Semler
Keseimbangan hidup merupakan dambaan setiap orang. Keseimbangan antara dunia profesional dan kehidupan pribadi yang berkualitas melatari konsep kerja Semler Company (SEMCO). Konsep ini ditularkan Ricardo Semler sejak menggantikan sang ayah sebagai CEO. Konsep ini pula yang mendasari terjadinya demokratisasi di SEMCO. Seorang tukang sapu di SEMCO sekalipun memiliki hak suara serta berhak hadir dalam rapat laporan keuangan. Keterbukaan informasi melahirkan rasa memiliki dan keinginan berkarya secara kontinu. Semangat inovasi dan skeptis lewat pertanyaan ”mengapa?” membawa SEMCO meraih pendapatan dari 35 juta dollar AS menjadi 160 juta dollar AS dalam enam tahun terakhir.
Ricardo memandang kebebasan dan kepuasan karyawan berada di atas tujuan perusahaan. Pertumbuhan organisasi yang mengarah pada perolehan laba terjadi alami apabila setiap karyawan senantiasa tertantang, bersemangat, dan produktif tanpa adanya tekanan yang tidak perlu. Tekanan yang tidak perlu, menurut Ricardo, dapat berupa jam kerja yang kaku, struktur organisasi, bahkan pengawasan akan gaya berpakaian. Pengawasan yang sedikit justru meningkatkan kemampuan inovasi bahkan mengeluarkan individu dari belenggu rutinitas kerja. Teknologi juga harus dipandang sebagai alat yang mempermudah kehidupan bukan merampas waktu luang. Karyawan tidak perlu merasa bersalah ketika siang hari menonton permainan sofbol dan mulai bekerja di depan laptop sambil menemani buah hati pada pukul 21.00 hingga 05.00. Mereka bahkan tidak perlu malu melakukan conference call dengan klien sambil menikmati alam pegunungan meski harus sibuk mencari dokumen dalam tumpukan peralatan ski. (STI/Litbang Kompas)
LD GUNAWAN
Boleh jadi ini buku kesehatan langka di rak perbukuan nasional. Bukan pula jenis yang biasa terselip di ragam bacaan kesehatan khazanah rumah. Tak serupa dengan jenis buku yang menyodorkan kiat tidak lekas tua. Kiranya bukan gegabah kalau menyebut ini buku unik karena dua alasan.
Pertama, bukan tipu daya jika buku ini langsung menyihir pembaca justru ketika baru membaca daftar isi. Ada yang luar biasa terasa di halaman-halaman awal. Sudah sejak di awal buku ini memancing rasa inkuisitif pembaca ihwal bagaimana hidup bisa bugar dijalani sampai tua.
Membalik-balik halaman buku, kita menemukan lebih seratus topik. Bisa jadi ini benar layak dijadikan ”jurus”, sebagaimana pretensi judul buku, atau langkah, panduan, atau apalah. Rancang cetak-birunya demi orang segala usia dimampukan mengulur umur mereka menjadi sepanjang mungkin.
Lebih dari hanya memberi potensi pembacanya meraih umur panjang, buku ini mengusung janji memampukan orang tetap sehat sampai tua. Sebagaimana paradigma medik ihwal usia lanjut, targetnya selain berumur panjang, juga masih sehat. Kita menyebutnya cita-cita healthy aging. Berkat kecerdikan berbahasa penulisnya yang memikat, pembaca dibuat gereget tak kepingin berhenti membalik halaman berikut sejak bab pertama.
Alasan kedua mengapa buku untuk semua umur ini unik karena pembaca menemukan banyak kebaruan dalam praksis hidup sehat. Selalu muncul catatan medik baru yang mengejutkan pada tiap halaman, justru ketika orang makin sadar dan didesak mencari cara bagaimana cantiknya hidup sehat seharusnya dijalani.
Paradigma lain buat sehat
Pada bab pertama buku, ada nuansa menyederhanakan hidup sehat secara lain yang tanpa memaksa mendesak untuk disimak. Tanpa diminta, sebuah paradigma langsung menjawil minat rasa ingin tahu siapa pun pembacanya. Sebut setelah membaca topik ”Tidak Bunuh Diri dengan Sendok Garpu Kita”, misalnya, atau ”Tukar Kursi Goyang dengan Sepatu Olahraga”.
Praksis hidup sehat semacam itu yang membetot keingintahuan awam, sekaligus menyedot rasa penasaran. Itu menyebabkan pembaca tak ingin berhenti membaca karena selalu menemukan munculnya paradoks hidup sehat di sana.
Dari satu bab ke bab berikut, pembaca dibuat merasa bahwa ada yang keliru ihwal apa-apa yang orang kebanyakan lakukan terhadap tubuhnya sendiri selama ini. Mereka seperti sedang berada di pihak serba salah dan tengah tersingkir di luar bingkai kesehatan.
Mungkin tumbuh semacam perasaan takut, cemas, menyesal dalam diri pembaca, kenapa baru sekarang peringatan (warning) seperti itu dibeberkan dengan gamblang. Peringatan yang sepantasnya sudah sejak dahulu diberikan secara formal di sekolah maupun informal dari media massa, juga koreksi terhadap pola dan gaya hidup tidak sehat yang selayaknya sudah dikerjakan sejak dulu.
Tubuh manusia memendam potensi bertahan hidup lebih lama dari yang kita sangka. Pada tingkat biologis, mengulur umur menjadi sepanjang mungkin, seperti pesan penulis buku, tergantung seberapa besar upaya keras kita menempuh perjalanan umur masing-masing.
Buku ini berangkat dari studi ihwal tubuh manusia dirancang berpotensi diulur sampai 120 tahun. Dunia ilmu meniscayai kalau itu bukan sesuatu yang absurd. Sampai di sini pembaca kian kuyup dibuat penasaran ingin terus membacanya.
Penulis dengan cekatan mengungkap kalau dunia kedokteran banyak belajar dari bagaimana orang zaman dahulu melakoni hidup. Di situ mula berangkat buku ini. Kesan lebih menukik terpetik seperti dari topik ”Melompat ke Meja Makan Nenek” bahwa untuk menjadi sehat ternyata sederhana.
Deras pula dituturkan kalau para dokter di dunia tergugah kembali belajar dari kesalahan modernisasi yang sudah menggoda dan secara dahsyat membelokkan setir hidup sehat rata-rata orang sekarang. Kekeliruan yang boleh jadi fatal, namun telanjur menjerumuskan orang makin berisiko jatuh sakit, lalu mati muda.
Dunia medik sibuk mengobati di hilir, tetapi tidak mencegat penyakit sejak di hulu. Buku ini berpretensi mengajak pembaca untuk membiasakan diri tekun bersibuk di hulu. Hanya dengan cara begitu penyakit yang tak perlu terjadi dapat dicegah sehingga ongkos dokter bisa lebih diirit.
Kedokteran pencegahan
Buku ini tak lagi nyinyir berbicara soal penyakit seperti kebanyakan buku kesehatan bagi awam. Tidak lagi sibuk mengurus ihwal penyakit bila sudah telanjur jatuh sakit. Tekadnya penuh demi mengangkat kiat dan pilihan sikap yang perlu dilakukan sepanjang aktivitas keseharian, apa pun karier dan jenis pekerjaan seseorang agar tak perlu sampai jatuh sakit.
Itu pula kelebihan buku ini. Sikap profesi yang tergolong langka dalam praksis layanan medik di belahan dunia mana pun. Sesuatu yang bukan saja tidak dikerjakan oleh rata-rata profesional dokter, tidak juga oleh pihak rumah sakit, ketika industri medik menafikan moral saat menolong orang sakit. Ini pula angin baru pada zaman layanan medik dunia bukan dijalani sebagai bentuk bisnis moral lagi. Buku ini juga lancar berbicara ihwal sikap medik berbeda dari yang selama ini rata-rata kalangan medik melumrahkan yang tak jamak itu.
Lebih dari itu, kalau diamati seperti penyajian buku-bukunya yang terdahulu, buku ”Sehat Itu Murah” yang best seller dan konon dalam setahun cetak ulang tujuh kali pada tahun 2007, Handrawan Nadesul, sebagai seorang dokter, piawai meramu, selain cekatan menulis ringkas, lugas, sederhana, dan enak dibaca pula. Tidak letih kita membacanya seolah tengah menikmati novel ringan belaka. Bagi kedokteran awam, buku ini barangkali sebuah gebrakan.
Setelah membaca isi buku seluruhnya, bagaimana hidup rata-rata awam sekarang, terasakan benar sebagai kebiasaan yang sudah serba keliru. Boleh jadi ini masalah nasional yang di kacamata penulisnya—yang sekian lama malang melintang mengasuh rubrik kesehatan di banyak media massa— merupakan kondisi yang sungguh mencemaskan.
Struktur usia tua
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat penduduk dunia tahun 2050 akan menggemuk pada kelompok usia tua. Populasi di atas umur 60 tahun berlipat tiga kali. Yang berumur di atas 80 tahun berlipat empat kali. Dunia akan didominasi oleh kelompok usia tua. Pada saat yang sama penduduk negara maju semakin susut. Apa artinya ini bagi sebuah negara kalau orang berhasil hidup semakin lama, tetapi nyatanya tidak sehat dan sakit-sakitan?
Artinya bahwa proyeksi layanan medik dan kesehatan akan semakin bergeser pada kelompok lansia yang mengisi sebagian besar populasi. Bagi negara, ini beban tersendiri karena usia tua umumnya menjadi terminal tempat beragam penyakit yang kebanyakan berlangsung menahun (chronic) jika yang tak perlu terjadi itu gagal dicegah.
Rata-rata usia lanjut kita memikul penyakit menahun yang mestinya tak perlu terjadi kalau paradigma hidup sehat yang benar dikuasai semua orang. Sebab, jika tidak, diproyeksikan dalam sepuluh tahun ke depan hampir empat ratus juta jiwa orang usia lanjut yang sakit-sakitan di dunia akan mati prematur (Sydney Resolution, 2008).
Meningkatnya populasi tua tetapi sakit-sakitan berarti membengkaknya biaya tanggungan yang harus dipikul negara nanti dan itu menjadi masalah nasional tersendiri. Misi buku ini secara tersirat hendak meringankan kecemasan dunia, setidaknya buat masyarakat kita, yang proyeksi populasinya akan disesaki oleh usia sepuh juga.
Demi meminimalkan ongkos tanggungan negara oleh kewajiban membiayai populasi uzur yang acap bermasalah itu, setiap generasi perlu dipersiapkan untuk melakukan upaya pencegahan. Upaya agar hari tua yang tetap berkualitas dan produktif bisa terus diulur, tak harus dirundung penyakit.
Kekurangan dan kelebihan
Sebagai sosok, buku ini sudah lengkap. Kekurangan buku ini dalam hal penataan letak dan besar huruf yang kurang ramah dibaca oleh yang sudah uzur. Perlu dipilih huruf yang cukup besar agar mereka yang uzur dapat mudah dan tak cepat letih membaca. Nuansa buku sendiri tidak cukup memberi kesan sebagai suasana menuju senja kalau penekanannya pada kelompok masyarakat senja (sunset community).
Kalau boleh disebut, kekuatan lain buku ini adalah disajikan ringkas dan penuh muatan wawasan kesehatan mutakhir. Membaca catatan yang ditulis para senior kepada penulisnya meneguhkan kalau buku ini cocok mengantarkan pembaca mengubah paradigma lamanya demi sukses melakoni hidup sehat sampai tua.
Bukan menjadi sehat sekadar dengan biaya murah belaka, melainkan ada janji tanpa ongkos, seperti dituturkan dalam catatan Prof Kisjanto, seorang ahli jantung. Selain itu buku ini sengaja dirancang tampil hardcover mungkin karena diyakini nasib buku akan berkali-kali dibolak-balik, sosoknya tak lekas lapuk kendati dibaca berulang-ulang.
Silakan Anda membacanya. Anda akan menemukan sejuknya warna biru langit pada latar setiap halamannya. Terlebih lagi bertumpuk-tumpuk manfaat buku akan terpetik melebihi uang yang sudah Anda belanjakan untuk membelinya. Ditambah lagi kalau ingat andai kita sudah telanjur jatuh sakit.
Rasanya bukan sesuatu yang absurd apabila setiap yang membaca buku ini akan meraih cita-cita nikmat hidup sehat sentosa. Bonus lebih yang diberikannya, setiap pembaca berpeluang menikmati hidup sampai di paling ujung ”usia emas”-nya, seperti janji penulis sejak di awal halaman pertama bukunya. Selanjutnya, tinggal tergantung apakah Anda mau melakukannya?
LD Gunawan Mantan Direktur Rumah Sakit, Pemerhati Kesehatan
| | |
| Cuaca buruk diperkirakan masih akan terjadi dan pasok listrik dapat terganggu lagi |
Pemadaman listrik di Jawa dan Bali diberlakukan karena transportasi batu bara terganggu cuaca buruk.
Namun pengamat menyebutkan, meskipun kasus ini abnormal namun PLN sendiri menghadapi masalah finansial berat yang sulit ditangani pemerintah.
Tetapi cuaca buruk diperkirakan masih terjadi dan ditengah kesulitan finansial PLN sendiri, tampaknya pemadaman bergilir masih akan terjadi.
Masyarakat sendiri diminta untuk menghemat guna membantu mengatasi kesulitan pasok listrik ini.
Pembangkit listrik alternatif seperti angin, tenaga surya dan gas sudah dilakukan namun belum maksimal.
Kebijakan pemerintah dipastikan menelan banyak korban. Dari tahun ke tahun selalu mengundang kontroversi. hal yang paling disayangkan adalah aset bangsa dijadikan kelinci percobaan. Penurunan mental yang sebenarnya masih dalam fase pengembangan justru memperburuk keadaan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Silih bergantinya kebijakan menunjukkan ketidakmatangan suatu pemerintahan yang konon katanya suara hati rakyat. Rumah-rumah pengaduan nasib sekaligus wadah aspirasi rakyat dijadikan simbol betapa nama rakyat diagungkan. Namun sayang, hanya simbol semata.
Sebelum masyarakat mulai beradaptasi terhadap satu kebijakan yang pemerintah tetapkan, pemerintah telah mengubahnya. Ini mengingatkan kepada kita akan masyarakat primitif yang nomaden.
Akankah ini membuktikan kemunduran bangsa kita? Ironisnya, ini kerap terjadi di bidang pendidikan. Kurikulum yang baru setengah perjalanan sudah berganti haluan. Lalu, kapan mencapai tujuan?
Minimnya sarana bukanlah suatu keterbatasan yang dijadikan alasan untuk bertindak maju. Sarana hanyalah sebagai baju pelengkap kegiatan menuntut ilmu. Sebaliknya, nyawa dalam pendidikan adalah ilmu.
Namun, yang sering digembar-gemborkan justru pembangunan sekolah di sana-sini tanpa diketahui seberapa jauh ilmu yang diserap dari kegiatan belajar. Sekolah banyak dimanfaatkan sebagai lahan bisnis, proses pembangunan sarana dan prasarananya bisa menguntungkan banyak pihak, terutama oknum yang memanfaatkan dana ilegal dari sana.
Ujian nasional yang dicanangkan sebagai program peningkatan standar mutu hanyalah sebuah bahasa formal semata. Pada kenyataannya, cacat di berbagai prosesnya. Sejak tahap input, yaitu pembuatan soal, pada soal yang diujikan sering tidak berdasar atas standar kompetensi lulusan (SKL) yang telah resmi dibuat dan diedarkan melalui sekolah maupun internet.
Pada jurusan IPS, kasus ketidaksesuaian dengan SKL itu banyak ditemukan pada mata pelajaran Geografi. Siswa berharap akan lulus ujian jika belajar pada jalurnya. Namun jika sudah lepas dari jalur, siapa pihak yang harus bertanggung jawab atas tangis histeris setelah para peserta menempuh ujian?
Sedangkan pada tahap pemrosesan ujian, kecurangan yang terjadi baik panitia, pengawas guru, maupun peserta ujian adalah cara instan mendapatkan suatu nilai. Hal ini wajar karena nilai merupakan standar baik-buruknya tingkat kecerdasan seseorang selama menuntut ilmu.
Tingkat kemampuan mengamalkan ilmu kurang diutamakan dalam pengukuran sejauh mana ilmu didapat. Hal ini tecermin pada lembar ijazah kelulusan. Pada lowongan pekerjaan maupun melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, angka yang tertulis yang diutamakan.
Kecurangan bersumber dari aspek ini. Mereka berlomba mendapat angka tertinggi dengan menghalalkan segala macam cara termasuk mencontek maupun membeli soal yang telah bocor.
Jika ingin menaikkan mutu, mengapa pemerintah tidak meningkatkan kualitas soal sesuai jalur? Padahal, ini dapat memacu siswa untuk mempersiapkan diri sebelum ujian sesuai dengan standar pemerintah.
(Reni Rakhmawati, Siswa Kelas XII IPS 3 SMA Negeri 3 Magelang, Jawa Tengah. Betapa lebih baik saya menumpahkan aspirasi daripada harus menangis dan mengeluh meratapi keadaan.)